Rabu, 17 Maret 2010

Hari raya Nyepi

[ Rabu, 17 Maret 2010 ]
Hari Raya Nyepi, Bali Bebas Polusi
DENPASAR - Sehari kemarin (16/3) jalan-jalan di hampir seantero Bali terasa lebih lapang. Pulau Seribu Pura tersebut juga bebas dari polusi. Hal itu bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Caka 1932 atau Hari Raya Nyepi.

Berdasar pantauan Radar Bali (Jawa Pos Group), jalan-jalan di Kota Denpasar lengang. Tak terkecuali kampung turis Kuta dan Civic Centre di Renon. Tak ada kemacetan atau lalu lalang kendaraan di jalan. Tak ada pula turis asing berjemur di sepanjang 1,2 km garis Pantai Kuta.

Kawasan sekitar Monumen Bom Bali juga bebas dari gelandangan dan pengemis (gepeng) maupun para pedagang. Kawasan Kuta pun beristirahat dari kerlap-kerlip lampu pertokoan.

Selama Nyepi, umat Hindu di Bali melakukan ritual catur brata penyepian. Yakni, amati karya (tidak melakukan kegiatan atau bekerja), amati lelunganan (tidak bepergian), amati lelangunan (tak bersenang-senang), dan amati geni (tak menyalakan api).

Menurut Made Wardana, wakil Bendesa Adat Kuta, 39 pecalang (petugas keamanan desa adat) dikerahkan untuk menjaga sekitar kawasan wisata itu. Untuk pengamanan, Desa Adat Kuta bekerja sama dengan polsek setempat. Pos pecalang dipusatkan di Pura Desa Adat Kuta.

Para pecalang itu berasal dari 13 banjar di Desa Adat Kuta. Mereka bertugas dalam dua sif, yakni pukul 06.00-24.00 dan 24.00-06.00. Para pecalang bersepeda keliling wilayah desa adat. ''Tahun ini bisa disebut aman. Mulai proses melis (melasti, Red) hingga saat Nyepi, semua bisa berjalan normal,'' tutur Wardana.

Dia menuturkan, hotel-hotel juga telah diimbau agar tidak menyalakan lampu. Desa Adat Kuta menyebarkan pengumuman agar menghormati Nyepi itu sejak jauh hari.

Secara terpisah, Sekretariat Bersama Kolaborasi Bali untuk Perubahan menginformasikan bahwa saat Nyepi, Pulau Dewata juga terbebas dari polusi. Menurut IGA Fransiska Sri Rahajeng Kusuma Dewi, koordinator Sekretariat Bersama Kolaborasi Bali untuk Perubahan, Nyepi menyelamatkan Bali dari sekitar 20 ribu ton karbondioksida. ''Paling tidak, itu didasarkan hasil penelitian pada 2005,'' katanya kemarin.

Penghematan itu, ungkap dia, hanya dihitung dari tiadanya lalu lalang kendaraan (sepeda motor, mobil, dan pesawat terbang). Pada 2005, tercatat 1,008 juta sepeda motor di Bali. Dengan asumsi setiap motor menghabiskan 4 liter bensin per hari, kendaraan roda dua menyumbang 9 juta kilogram karbondioksida.

Pada 2005, lanjut dia, jumlah mobil di Bali sekitar 200 ribu unit. Dengan asumsi mobil menghabiskan 10 liter bensin sehari, karbondioksida yang dihasilkan 4,8 juta kilogram. Sedangkan frekuensi penerbangan di Bandara Ngurah Rai mencapai 80 kali per hari. Jika setiap pesawat menghabiskan 80 liter avtur per hari, total karbondioksida yang dihasilkan 3.840 ton.

''Jika ditotal, 17 ribu ton karbondioksida dihasilkan kendaraan di Bali,'' terang Fransiska. Itu belum termasuk dari yang lain. ''Saat Nyepi warga juga tak menyalakan peralatan elektronik,'' jelasnya. (fer/mif/jpnn/dwi)

from:Jawa pos http://www.jawapos.com

0 komentar:

 
oden ngawi © 2008