Selasa, 30 Maret 2010

Ditpolair Polda Jatim Tangkap 47 Imigran Gelap asal Iran

 

SURABAYA - Gelombang pengiriman imigran gelap melalui perairan Jawa Timur kembali terjadi. Kemarin subuh (29/3), Ditpolair Polda Jatim menangkap 47 imigran gelap asal Iran dan Afghanistan yang akan menyusup ke Australia lewat Indonesia. Mereka ditangkap saat melintas dengan sebuah kapal tanpa nama di perairan Pacitan.

Kasubdit Bin Ops Ditpolair Polda Jatim AKBP Bambang Widiyatmoko menyatakan, sebelumnya pihaknya menerima informasi akan adanya usaha pengiriman imigran gelap. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim Ditpolair lantas menyanggong di perairan Pacitan.

Nah, pukul 04.00 dini hari, kapal yang ditumpangi para imigran gelap itu mendekat. Saat berada 5 mil dari perairan Pacitan, kapal tanpa nama tersebut disergap dan dipinggirkan ke pantai. ''Mereka langsung kami bawa ke Surabaya,'' ujarnya.

Rombongan imigran itu rata-rata berusia 30 tahun. Tiga di antaranya adalah anak-anak dan enam wanita. Setelah didata, 42 imigran yang ditahan diketahui berasal dari Iran. Lima sisanya berasal dari Afghanistan.

Ternyata, tidak semua imigran ilegal. Hanya 20 orang yang tidak memiliki paspor. Sebanyak 27 warga negara Iran lainnya memiliki paspor untuk kunjungan ke Indonesia. Namun, mereka tetap diamankan. ''Suruh siapa mereka ikut dalam rombongan ilegal,'' ujar Widiyatmoko.

Hingga kemarin petang, 47 imigran tersebut masih ditempatkan di aula mapolair. Mereka dibiarkan berlalu-lalang di sekitar aula tanpa pengawalan khusus. Meski tak bisa berbahasa Inggris, mereka tetap berusaha berkomunikasi dengan wartawan maupun polisi. Namun, mereka menolak wartawan yang berusaha meliput atau mengambil gambar. ''No picture, no picture!'' ujar rombongan imigran laki-laki.

Merasa tak dikawal, salah seorang imigran sempat berusaha kabur dengan memanjat dinding belakang di samping aula. Namun, ternyata penjagaan telah dilakukan di perbatasan mapolair. Karena kaget, si imigran itu pun lantas terjatuh hingga bibirnya berdarah.

Widiyatmoko menambahkan, saat ditangkap, keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Mereka saling berdempet dalam sebuah kapal berukuran sekitar 3 x 15 meter. Tidak ada makanan di dalam perahu. ''Karena itu, di sini mereka kami beri makan,'' ungkapnya.

Yang jelas, kata dia, imigran gelap tersebut adalah sindikat penyelundupan orang yang merupakan kejahatan transnasional. Karena itu, pihaknya akan bekerja sama dengan imigrasi untuk menindaklanjuti masalah tersebut. ''Mereka akan ditahan di rumah detensi imigrasi (rudenim) di Bangil, Pasuruan. Sementara itu, polda akan mencari mafianya,'' tegasnya. (fuz/c5/dos)

from : Jawa Pos

0 komentar:

 
oden ngawi © 2008